Mengenal Package Manager dan Repositories Linux

package-managers

Selamat malam para linuxer, kali ini saya akan share mengenai program package manager dan repositories pada Linux. Saat kita ingin menginstall aplikasi pada sistem Linux, kita bisa menggunakan package managers dan software repositories, tidak seperti sistem Windows yang harus membuka program berekstensi “.exe”.

Disini saya akan membahas package manager dan repositories yang digunakan untuk distro Linux berbasis Debian dan Ubuntu (termasuk Linux Mint yang saya gunakan). Jadi apa itu package manager dan repositories ?

1. Repositories

Ada sangat banyak aplikasi yang tersedia untuk Linux. Tempat kumpulan aplikasi-aplikasi tersebut dinamakan repositories. Repositories memudahkan kita untuk menginstall aplikasi yang diinginkan hanya dengan bermodalkan koneksi internet. Selain itu aplikasi-aplikasi yang tersedia di repositories terjamin keamanannya karena sudah melewati tes yang dilakukan terlebih dahulu. Setiap distro Linux mempunyai repositories masing-masing untuk distribusinya.

Repositories Ubuntu dibagi menjadi empat bagian, yaitu :

  • Main : Aplikasi resmi (official).
  • Restricted : Aplikasi yang tidak berlisensi free software philosophy.
  • Universe : Aplikasi yang dibuat oleh komunitas.
  • Multiverse : Aplikasi berbayar / komersil.

2. Package Manager

Package Manager bisa diibaratkan seperti Google Play. Kita cukup mencari aplikasi yang dinginkan, klik “install” dan aplikasi akan otomatis terinstall pada komputer. Tidak seperti Windows dimana kita harus mencari file “.exe” –dan mungkin beserta crack’an-nya hehehe. Saat tersedia update untuk aplikasi yang sudah terinstall, package manager akan mendownloadnya dari repositories dan kita bisa melakukan update kapan saja kita mau.

*Note : Dengan package manager, semua aplikasi yang terinstall bisa diupdate secara terpadu. Tidak seperti Windows dimana setiap aplikasi melakukan update masing-masing.

3. Packages

Packages bisa diibaratkan seperti file “.exe” pada Windows. Package merupakan archive yang berisi beberapa file yang kemudian akan diinstall ke komputer dengan menggunakan package managers. Ada beberapa tipe packages, seperti “deb” untuk keluarga Debian dan Ubuntu. Atau “rpm” untuk Fedora, Red Hat dll. Saat kita menguninstall aplikasi, package manager akan mencari lokasi file pada sistem dan menghapusnya. Tidak seperti di Windows dimana setiap aplikasi mempunyai uninstaller-nya masing-masing.

4. Install aplikasi pada Linux

Seperti yang dijelaskan di atas, untuk menginstall aplikasi pada Sistem Linux, kita menggunakan program package manager. Untuk keluarga Debian dan Ubuntu (termasuk Linux Mint yang saya pakai) ada beberapa tipe package manager yang bisa digunakan seperti :

  • Software Center
  • Update Manager
  • Synaptic Package Manager
  • apt-get command

Kita cukup mengetikkan nama aplikasi yang ingin diinstall dan package manager akan mengerjakan semuanya. Poin satu hingga tiga adalah package manager yang menggunakan GUI. Poin empat adalah package manager yang menggunakan CLI melalui terminal.

softwaremanager2

Software Center bekerja seperti Google Play, kita cukup mengetikkan nama aplikasi yang diinginkan dan klik “install”.

 

updatemanager

Update Manager berfungsi untuk melakukan update aplikasi yang terinstall. Terdapat 5 level update di sistem Ubuntu. Update Manager akan melakukan proses update index repositories secara otomatis ketika dibuka. Untuk melakukan update, klik “install updates“.

*Note : Pada Linux Mint, update level 1,2,3 adalah update yang sudah diverifikasi keamanannya oleh tim distribusi Linux Mint.

synapticpackagemanager

Synaptic Package Manager mempunyai fungsi yang sama dengan Software Center. Hanya saja dilengkapi dengan fitur-fitur tambahan yang lebih lengkap. Secara umum penggunaan Software Center lebih mudah dan disukai.

apt-get

Contoh penggunaan commandapt-get” untuk menginstall aplikasi opera.

4. Update Delay

Salah satu hal yang menjadi catatan adalah kadang kala update aplikasi mengalami delay pada Linux. Ini dikarenakan jika pembuat aplikasi (contohnya Firefox) mengeluarkan update terbaru, maka kita tidak bisa melakukan update langsung dari website Firefox, melainkan harus menunggu update tersebut tersedia di repositories yang kita gunakan.

Sebenarnya kita bisa saja mendownload aplikasi Firefox terbaru langsung dari websitenya lalu kemudian menginstallnya, tetapi dibutuhkan proses compiling terlebih dahulu yang jauh lebih tidak praktis dibandingkan dengan menggunakan package manager.

5. Repositories Tambahan

Distro Linux secara default menyediakan daftar repositories yang digunakan. Tetapi kita juga bisa menambahkan repositories yang kita inginkan untuk kemudian menginstall aplikasi yang dari repositories tersebut. Repositories ini dinamakan Personal Package Archives (PPA). Untuk konfigurasinya bisa dilakukan dengan membuka program Software Sources yang tersedia di menu Administration.

softwaresources

Nah kira-kira begitulah cara kerja package manager dan sistem repositories pada Linux berbasis Debian dan Ubuntu. Biasanya saya pribadi lebih sering menggunakan command apt-get” dari terminal karena lebih praktis. “apt-get” juga bisa digunakan untuk update semua aplikasi sekaligus dan bahkan upgrade Sistem Operasi. Untuk pembahasan lebih dalam mengenai command apt-get” akan saya coba share di post berikutnya 🙂

Thx !

Reference : howtogeek.com | help.ubuntu.com
Image (package) : goo.gl/u58obI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s